91 Film Sudah Lahir, BYCN Ajak Karya Banyuwangi Kembali Bertemu Penonton

BANYUWANGI – Upaya menghidupkan kembali ruang apresiasi dan ekosistem perfilman Banyuwangi menjadi salah satu gagasan yang mengemuka dalam kegiatan Nonton Bersama dan Bedah Film ROOTS – One Hundred Years of Walter Spies in Bali, yang diselenggarakan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Banyuwangi bekerja sama dengan Rhizomata Art And Culture Network Gianyar Bali, Rabu (2/9/2026).
Bertempat di Mini Bioskop Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Banyuwangi, kegiatan tersebut menjadi ruang untuk menonton, berdiskusi, dan bertukar gagasan mengenai film, kebudayaan, sejarah, sekaligus perkembangan perfilman. Momentum ini sekaligus menjadi ruang untuk melihat kembali potensi perfilman Banyuwangi yang telah tumbuh dalam beberapa tahun terakhir.
Banyuwangi sendiri telah memiliki modal sosial yang cukup besar dalam pengembangan sub sektor perfilman. Sepanjang 2019–2023, tercatat 91 film telah dihasilkan melalui Banyuwangi Film Festival, yang melibatkan production house (PH), sineas muda, komunitas film, hingga sekolah.
Perjalanan tersebut dimulai pada 2019 dengan produksi 31 film. Aktivitas perfilman kemudian terdampak pandemi COVID-19 pada 2020. Setelah itu, geliat produksi kembali tumbuh dengan menghasilkan 17 film pada 2021, 21 film pada 2022, dan 22 film pada 2023.
Menurut Ketua Umum BYCN, Dedy Wahyu Hernanda, M.AP, angka tersebut tidak seharusnya hanya dilihat sebagai capaian produksi. Sebanyak 91 film yang telah lahir merupakan aset kreatif sekaligus modal sosial yang dapat terus dikembangkan apabila mendapatkan ruang untuk kembali bertemu dengan masyarakat.
“91 film ini bukan sekadar angka. Ini adalah modal sosial yang sudah kita miliki. Tantangannya sekarang adalah bagaimana karya-karya tersebut kembali hidup, bertemu dengan penontonnya, dan memberikan dampak yang lebih luas bagi ekosistem kreatif Banyuwangi,” ujarnya.
Potensi tersebut semakin relevan di tengah pertumbuhan sektor film nasional. Pada 2025, jumlah penonton film Indonesia mencapai 80,2 juta orang, sementara 178 film nasional dirilis di bioskop. Kondisi ini menunjukkan bahwa pasar penonton film Indonesia terus tumbuh dan membuka peluang yang lebih besar bagi karya-karya dari daerah untuk mendapatkan ruang apresiasi dan distribusi.
Bagi BYCN, tantangan pengembangan perfilman Banyuwangi karena itu tidak berhenti pada bagaimana memproduksi film baru. Persoalan berikutnya adalah bagaimana film-film yang sudah lahir dapat kembali diputar, ditonton, diapresiasi, dibicarakan, sekaligus menjadi pintu masuk bagi kolaborasi baru.
Sebagai langkah awal, BYCN akan segera menjadwalkan Bioling (Bioskop Keliling) dengan menghadirkan film-film kearifan lokal Banyuwangi hasil karya PH, sineas muda, komunitas film, serta karya-karya Banyuwangi Film Festival.
Melalui Bioling, film-film yang selama ini telah diproduksi akan dibawa kembali lebih dekat kepada masyarakat. Program tersebut diharapkan tidak hanya menjadi agenda nonton bersama, tetapi juga menjadi ruang apresiasi, diskusi, pertemuan antara sineas dan penonton, serta membuka peluang kolaborasi di dalam ekosistem perfilman.
Lebih jauh, Bioling diharapkan dapat menjadi bagian dari upaya menghidupkan kembali ruang-ruang kreatif di Banyuwangi, termasuk kawasan TWT Sobo. Ketika ruang kreatif kembali dipenuhi aktivitas, pergerakan tidak hanya terjadi pada sineas dan komunitas film, tetapi juga berpotensi menggerakkan pelaku ekonomi lokal di sekitar lokasi kegiatan.
“Kita ingin film-film yang sudah lahir tidak hanya menjadi arsip. Film harus kembali diputar, ditonton, dibicarakan, dan menjadi pemantik pergerakan ekosistem. Ketika ruang kreatif hidup, maka sineas, komunitas, penonton, dan pelaku ekonomi lokal di sekitarnya juga ikut bergerak,” pungkasnya.
91 film sudah lahir. Ceritanya sudah ada. Talenta sudah tumbuh. Kini saatnya karya-karya Banyuwangi kembali bertemu dengan penontonnya dan membuat perfilman Banyuwangi kembali bergerak.
Artikel Terkait

Digitalisasi Ekraf Banyuwangi: BYCN Siapkan Tiga Platform untuk Hubungkan Komunitas, UMKM, dan Pasar
14 September 2026

Petakan Potensi Desa, BYCN Gandeng LPNU Banyuwangi Gagas Program 'Satu Data Ekraf'
29 Agustus 2026

Sinergi Akademisi dan Kreator Lokal, BYCN Gandeng Fakultas Ilmu Komputer Universitas Brawijaya Dorong Digitalisasi Ekonomi Kreatif Banyuwangi
13 Agustus 2026